Aku menulis tentang:

Selasa, 17 Agustus 2010

Tuhan, Ini Aku, Margaret

Beradaptasi dengan lingkungan baru sering menjadi masalah tersendiri bagi banyak orang, tidak hanya bagi anak-anak dan remaja, orang dewasa pun sering mengalaminya. Sekolah baru, rumah baru, atau kantor baru. Apakah aku akan mendapatkan teman-teman baru? Apakah mereka akan menyukaiku? Apakah aku bisa bertahan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa muncul sebagai wujud dari kekhawatiran kita.

Margaret dan Empat PRC
Margaret yang sejak lahir sudah tinggal di salah satu apartemen di New York, tiba-tiba harus pindah rumah mengikuti orangtuanya ke lingkungan ‘desa’ di Farbrook, New Jersey. Dan dia pun gelisah, seperti yang dia ungkapkan dalam ‘curhat’-nya pada Tuhan.

“Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Hari ini kami pindah rumah. Aku takut sekali, Tuhan. Aku belum pernah merasakan tinggal di mana pun selain di sini. Bagaimana kalau nanti ternyata aku tidak suka pada sekolah baruku? Bagaimana kalau orang-orang di sana tidak menyukaiku? Tolong aku, Tuhan. Jangan sampai tempat tinggalku yang baru nanti di New Jersey terlalu mengerikan. Terima kasih.

Masalah pindah rumah bagi gadis pra-remaja yang hampir berusia 12 tahun ini hanya sebagian dari masalah yang dia khawatirkan. Sebagai gadis yang dalam masa transisi menuju remaja, dia mulai memikirkan masalah pertumbuhan bagian-bagian tertentu di tubuhnya, bau badan, menstruasi, dan dengan malu-malu mulai memperhatikan lawan jenisnya. Tapi apa yang dikhawatirkannya mengenai lingkungan barunya tidaklah semengerikan yang dia bayangkan. Dia akhirnya mendapatkan teman, dan malah membentuk geng yang bernama Empat PRC (Empat Pra Remaja Ceria).

Menulis di Buku Cowok (berisi daftar cowok yang mereka anggap paling keren), mengadakan rapat geng sepulang sekolah, bergosip tentang cowok dan Laura Danker, memutuskan untuk menggunakan bra, dan ‘berlomba’ untuk jadi yang pertama mengalami menstruasi. Itu hanyalah sebagian dari kegiatan yang dia lakukan bersama teman-teman se-gengnya.

Margaret, Antara Proyek dan Agama
Lahir dalam keluarga yang ayah-ibunya berbeda keyakinan umumnya membuat anak-anak merasa bingung. Ikut keyakinan ibu, merasa tidak enak dengan ayah. Ikut keyakinan ayah, merasa tidak enak dengan ibu. Tapi untungnya, orangtua Margaret tidak memaksakan salah satu agama pun pada putri satu-satunya itu. Mereka memberikan kebebasan bagi Margaret untuk memilih agamanya sendiri jika kelak dia sudah dewasa. Apakah itu membuat kebingungannya hilang? Tentu saja tidak. Lebih buruknya lagi, dia seolah mendapat semacam ‘tekanan’ dari kakek-neneknya - dari kedua belah pihak - yang ingin Margaret menganut agama yang mereka anut.

Dia juga merasa berbeda dengan teman-temannya yang sudah menganut agama masing-masing. Dia belum pernah sekalipun pergi ke tempat ibadah, sementara teman-temannya pergi ke tempat ibadah agama masing-masing. Dan mungkin itulah yang membuat dia sangat membenci hari raya keagamaan. Hingga suatu hari, guru kelasnya memberikan proyek bagi dia dan teman-teman sekelasnya yang harus dikerjakan selama mereka berada di kelas enam. Dan dia memutuskan untuk membuat pencariannya akan agama yang ia ingin anut sebagai proyeknya. Dan berikut ungkapan kegelisahan hatinya:

Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Bagaimana pendapatMu kalau aku memilih topic proyek tentang agama? Kau tidak keberatan, bukan, Tuhan? Aku akan menceritakan semuanya kepadaMu. Dan aku tidak akan mengambil keputusan apa pun tanpa meminta izinMu lebih dulu. Kupikir, sudah waktunya aku menentukan agama yang ingin kupeluk. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi orang tanpa agama, ya, kan?

Margaret dan Tuhan
Untuk mendapatkan materi yang akan digunakan dalam laporan proyeknya, dia mengunjungi rumah ibadah neneknya – ibu dari ayahnya. Tapi sayangnya, dia tidak merasakan kehadiran Tuhan di sana. Dia ikut merayakan hari raya keagamaan yang dirayakan oleh temannya yang satu agama dengan ibunya, tapi dia juga tidak merasakan Tuhan di sana. Dia pernah masuk ke rumah ibadah Laura Danker, dan dia pun tidak merasakan kehadiran Tuhan di sana.

Margaret memang belum memutuskan untuk menganut satu agama pun. Tapi dia merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dia merasakan Tuhan dekat di hatinya. Dia selalu berkomunikasi dengan Tuhan. Dia selalu curhat mengenai segala sesuatu yang dia rasakan kepada Tuhan. Bahkan masalah pribadi sekali pun dia curhatkan kepada Tuhan. Bahkan ketika dia merasa bagian dadanya tidak berkembang sepesat Laura Danker, dia menceritakannya pada Tuhan. Tuhan menjadi tempat curhat eksklusif bagi dia. Tempat curhat paling nyaman dan tentunya bebas gosip.

Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Aku sebenarnya tidak ingin merepotkan Kau, Tuhan. Maksudku, aku tahu Kau sangat sibuk. Tetapi sekarang sudah bulan Desember dan aku masih belum tumbuh juga. Bukankah sudah waktunya, ya Tuhan? Bukankah aku sudah menunggu dengan sabar selama ini? Tolonglah aku.

Tuhan, Ini Aku, Margaret
Buku ini memang sangat cocok dibaca oleh gadis-gadis remaja /pra-remaja yang mengalami permasalahan yang sama. Tapi tidak tertutup juga buat pembaca yang lebih dewasa maupun yang berjenis kelamin laki-laki, karena buku ini tidak hanya membahas masalah tersebut.

Buku ini juga bercerita tentang seorang anak perempuan yang sedang mencari agama yang akan dia anut. Tapi pembahasannya sepertinya memang disengaja tidak terlalu mendalam, jadi jangan takut akan membuat anak-anak remaja/pra-remaja yang membaca menjadi bingung. Biarlah hanya Margaret yang merasa bingung.

Buku lama yang diterjemahkan dan diterbitkan GPU tahun 1991 ini bukanlah buku agama. Tapi hanyalah sebuah buku yang menceritakan kehidupan seorang gadis pra-remaja dalam masa transisi menuju remaja, yang juga dalam masa transisi untuk menentukan agama yang akan dia peluk. Dikisahkan dengan bahasa yang ringan dengan sisipan-sisipan kelucuan yang berkelas (sama sekali tidak garing) di beberapa bagian.

Tuhan ada di mana-mana, dan dia hanya sejauh doa. Jadi, mari curhat!

Dan diakhir cerita, Margaret berkomunikasi dengan Tuhan yang dia kenal:
Apakah Kau masih di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Aku tahu, Kau masih ada di situ, Tuhan. Aku tahu bahwa Kau tahu! Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak . . .

Direkomendasikan pada semua orang, semua jenis kelamin. Oh iya, kredit buat penerjemahnya, keren euuyii. Terjemahan ter-enak (dibaca) dari GPU yang pernah saya baca sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar