Aku menulis tentang:

Kamis, 19 Agustus 2010

Sandekala - Mainteater

SANDEKALA MENUNTUT PERUBAHAN
Greg Kenton memiliki segudang bakat, padahal umurnya baru belasan tahun. Di bidang olahraga, dia jago bermain bisbol dan sepak bola. Di bidang kesenian, suaranya juga jernih ketika bernyanyi dan bisa bermain piano. Tak hanya itu, membuat sketsa dan menggambar adalah hal yang gampang buat dia. Di bidang akademik, dia bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, mulai dari membaca, menulis, IPA, dan IPS.

Namun, bakat yang paling menonjol yang dia miliki adalah

Republik Petruk - Teater Koma

Cermin Buram Republik Indonesia

Bagi para penggemar acara televisi yang bukan sinetron, mungkin sudah terbiasa menonton beberapa jenis acara parodi seperti: Republik Mimpi, Kabaret, Democrazy, dan lain-lain. Semuanya mencoba mengkritisi keadaan negara ini dengan cara memberikan gambaran betapa memprihatinkannya dan carut-marutnya keadaan Indonesia. Perekonomian yang kurang mulus perkembangannya, rakyat yang mudah terprovokasi, pemimpin-pemimpin yang saling menjegal, saling balas dendam demi tercapainya tujuan pribadi ataupun kelompoknya. Belum lagi dengan isu yang sempat mencuat hangat di khalayak ramai, apalagi kalau bukan banyak artis-artis yang mencoba peruntungan di dunia politik dengan mendaftar jadi calon anggota legislatif, walaupun mungkin tanpa ada keahlian khusus yang ditawarkannya selain modal kepopuleran.

Menyaksikan lakon Republik Petruk yang disuguhkan oleh Teater Koma, seperti

Phone Booth

Apakah Anda berani untuk jujur menceritakan semua hal buruk (kebohongan, penipuan, perselingkuhan, dll) yang pernah Anda lakukan di hadapan khalayak ramai, ketika itu menjadi pilihan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang? Menjatuhkan harga diri serta menanggung malu demi menyelamatkan hidup orang lain?

Stuart Shepard atau lebih akrab dipanggil Stu, diperankan oleh (Collin Farrell), bekerja sebagai publicist (apa ya bahasa Indonesia, tapi seperti agen publisitas gitu). Dalam melakukan pekerjaannya,

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

PERINGATAN: Tulisan ini adalah sotoy belaka. Segala efek samping yang ditimbulkan menjadi tanggung jawab pembaca :p

Bumi, sebagai tempat tinggal kita, merupakan milik Sang Pencipta. Dengan cinta, Dia mempercayakannya kepada kita untuk dipelihara dan dikelola, seharusnya juga dengan cinta. Setelah waktu kita habis kelak, Bumi dan segala isinya juga akan dipercayakan kepada penerus kita, anak-cucu kita. Dipercayakan bisa berarti diberi tugas dan tanggung jawab untuk menjaganya dengan baik. Apa yang bisa dinikmati oleh para pendahulu kita, seharusnya bisa dinikmati oleh para penerusnya. Seharusnya, sampai sekarang.

Ibarat meminjam buku dari teman, kita boleh membacanya sepuas hati tapi kita harus menjaga agar buku itu tidak rusak, apalagi sampai hilang. Bisa-bisa, kita tidak akan pernah dipercaya lagi untuk meminjam. (Oh tidak, jadi ingat kalau saya masih meminjam bukunya Roos, tapi sampai sekarang masih dalam antrian to read) Kita seharusnya bisa menjaganya seperti barang milik kita sendiri meskipun kita tidak benar-benar memilikinya.

Tapi, budaya orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ berkata, “Jika kita tidak memilikinya, kita tidak perlu memperdulikannya.” Orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ itu pun tidak menjaga alam yang dipercayakan padanya. Hanya mengeksploitasinya, mengeruk isinya tanpa ada niat yang serius untuk memulihkan kondisinya. Hutan dibabat membabi buta, tanah dikeruk dan ditambang semena-mena tanpa membiarkan alam bernafas sejenak untuk sekedar memulihkan kondisinya.

Alam pun akhirnya bereaksi. Tidak heran, semut kena injak saja menggigit. Kalau alam bisa berbicara, mungkin dia akan mengatakan, “Lu jual, gue beli!” Cuaca berubah-ubah, temperatur naik, udara semakin kotor, air tercemar, hutan tidak bisa lagi menahan air dan menyediakan udara segara, longsor, dan banjir. Bahkan, hewan-hewan di hutan pun ikut terusik. Lahan tempat mereka mencari makan semakin menyempit padahal banyak perut yang harus diisi. ‘Berkunjung’ ke perkampungan penduduk menjadi salah satu solusi. Konflik antara manusia dan binatang pun terjadi.

Seandainya kita memiliki cinta terhadap alam ini. Cinta yang benar-benar cinta seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya kolot dan tidak beradab. Seperti orang-orang Shuar di pedalaman Amazon. Selayaknya pemburu sejati, mereka hanya mengambil apa yang benar-benar mereka butuhkan dari alam. Tidak serakah untuk memuaskan keinginan semata. Mereka hanya berburu hewan-hewan yang benar-benar sudah dewasa. Bahkan mereka dengan rela hidup berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya hanya untuk memberikan lokasi yang mereka tempati sebelumnya bisa bernafas untuk memulihkan kondisinya alamnya.

Pak tua yang dikisahkan dalam buku karya Luis Sepulveda ini belajar dari orang-orang Shuar tersebut. Meski pak tua ini tidak pernah menjadi orang Shuar, tapi dia telah menjadi bagian dari mereka. Terlebih dalam hal bagaimana seharusnya memperlakukan alam yang telah banyak memberi sumber kehidupan bagi manusia. Ambil yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan.

Sebenarnya, pak tua ini berasal dari golongan orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’. Tapi, dia sangat gemar membaca kisah cinta. Kisah cinta yang ada sedihnya, yang ada penderitaan yang luar biasa, tapi dengan akhir yang bahagia. Dia memang tidak lancar membaca tapi dia berusaha untuk mengerti dan memahami setiap kata yang menyusun setiap kalimat yang dia baca dalam novel-novel percintaan itu. Mungkin, itulah yang menyebabkan dia bisa memahami apa itu cinta, penderitaan, kesedihan, dan kebahagiaan. Sehingga dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh mahkluk lain. Apalagi, saat dia menyaksikan sendiri bagaimana seekor macan betina menunjukkan rasa cintanya pada pasangannya.

Ketika kita merasa semakin pintar, merasa semakin beradab, dan merasa semakin moderen, kok kita semakin tidak menghargai alam dan hak mahkluk lainnya. Mungkin, kita harus lebih sering membaca kisah cinta seperti yang dilakukan oleh pak tua ini. Tidak sekedar membaca, tapi memahaminya agar cinta kepada alam yang pernah diajarkan oleh nenek moyang kita tidak terkikis oleh peradaban. Padahal, bukankan peradaban seharusnya membuat kehidupan di Bumi menjadi lebih baik? Haruskah kita mewariskan udara kotor, tanah gersang, air tercemar ataupun hutan yang gundul kepada mereka?

Selasa, 17 Agustus 2010

Rasa Nasionalisme (Jangan hanya di mulut)

 Dalam sebuah tayangan acara salah satu televise swasta, sang pembawa acara “berkelana” sambil menenteng sebuah kamera ke beberapa area perkantoran. Dia bertanya terhadap beberapa karyawan apakah mereka tahu tentang kasus lagu “Rasa Sayang” yang diakui oleh negara lain sebagai miliknya. Setelah mendapat respon yang berbeda-beda, kemudian dia pun mulai bertanya berapa banyak produk lokal yang sedang dipakai para karyawan tersebut pada saat itu, mulai dari tas, sepatu, kemeja, celana, rok, jaket, jam, dan lain sebagainya. Inti dari acara tersebut sebenarnya untuk mengukur seberapa besar rasa nasionalisme para karyawan tersebut.

Apakah rasa nasionalisme bisa diukur dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu? Apakah sebuah rasa ada ukuran pastinya? Kalau boleh saya persamakan, rasa nasionalisme itu sama dengan rasa cinta terhadap tanah air. Ketika berbicara tentang cinta, maka yang berbicara adalah hati dan perasaan yang kadang-kadang dibumbui oleh logika, kecuali kalau berurusan dengan cinta buta. Arswendo Atmowiloto dalam sebuah acara televisi berkata,”Kalau kamu mencintai tanah airmu, maka kawini dong, serta berkomitmen. Jangan cuma ngomong cinta.”

Layaknya perkawinan dua insan, ada komitmen, komitmen untuk saling menjaga, saling menghargai, sehidup semati, dalam suka dan duka, hingga ajal memisahkan. Ketika rakyat mengawini tanah airnya, selayaknya rakyat tersebut juga harus menjaga dan memelihara tanah airnya, termasuk kekayaan alamnya, seni dan budayanya, serta semua hal yang termasuk di dalamnya. Ketika semua rakyat bersatu untuk menjaga tanah air dan semua hal yang ada didalamnya, siapapun tidak akan berani untuk mengambilnya. Jadi tidak perlu lagi ada emosi membara ketika orang lain mengambil harta kita. Harta seseorang bisa diambil orang lain karena harta tersebut tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Maklum, silap dikit saja, maling bisa beraksi.

Kalau kita memang mempunyai rasa nasionalisme itu, berarti kita pun siap berkomitmen untuk menjaga tanah air kita, berarti kita pun tidak perlu lagi disuruh-suruh untuk menggunakan produk buatan bangsa sendiri, berarti kita tidak perlu lagi mengedepankan perbedaan, berarti kita tidak perlu lagi merasa paling benar, berarti kita bisa saling membantu atas nama persatuan. Selayaknya cinta, bukan hanya diutarakan dimulut, tetapi lebih kepada tindakan. MERDEKA!!!

Tuhan, Ini Aku, Margaret

Beradaptasi dengan lingkungan baru sering menjadi masalah tersendiri bagi banyak orang, tidak hanya bagi anak-anak dan remaja, orang dewasa pun sering mengalaminya. Sekolah baru, rumah baru, atau kantor baru. Apakah aku akan mendapatkan teman-teman baru? Apakah mereka akan menyukaiku? Apakah aku bisa bertahan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa muncul sebagai wujud dari kekhawatiran kita.

Margaret dan Empat PRC
Margaret yang sejak lahir sudah tinggal di salah satu apartemen di New York, tiba-tiba harus pindah rumah mengikuti orangtuanya ke lingkungan ‘desa’ di Farbrook, New Jersey. Dan dia pun gelisah, seperti yang dia ungkapkan dalam ‘curhat’-nya pada Tuhan.

“Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Hari ini kami pindah rumah. Aku takut sekali, Tuhan. Aku belum pernah merasakan tinggal di mana pun selain di sini. Bagaimana kalau nanti ternyata aku tidak suka pada sekolah baruku? Bagaimana kalau orang-orang di sana tidak menyukaiku? Tolong aku, Tuhan. Jangan sampai tempat tinggalku yang baru nanti di New Jersey terlalu mengerikan. Terima kasih.

Masalah pindah rumah bagi gadis pra-remaja yang hampir berusia 12 tahun ini hanya sebagian dari masalah yang dia khawatirkan. Sebagai gadis yang dalam masa transisi menuju remaja, dia mulai memikirkan masalah pertumbuhan bagian-bagian tertentu di tubuhnya, bau badan, menstruasi, dan dengan malu-malu mulai memperhatikan lawan jenisnya. Tapi apa yang dikhawatirkannya mengenai lingkungan barunya tidaklah semengerikan yang dia bayangkan. Dia akhirnya mendapatkan teman, dan malah membentuk geng yang bernama Empat PRC (Empat Pra Remaja Ceria).

Menulis di Buku Cowok (berisi daftar cowok yang mereka anggap paling keren), mengadakan rapat geng sepulang sekolah, bergosip tentang cowok dan Laura Danker, memutuskan untuk menggunakan bra, dan ‘berlomba’ untuk jadi yang pertama mengalami menstruasi. Itu hanyalah sebagian dari kegiatan yang dia lakukan bersama teman-teman se-gengnya.

Margaret, Antara Proyek dan Agama
Lahir dalam keluarga yang ayah-ibunya berbeda keyakinan umumnya membuat anak-anak merasa bingung. Ikut keyakinan ibu, merasa tidak enak dengan ayah. Ikut keyakinan ayah, merasa tidak enak dengan ibu. Tapi untungnya, orangtua Margaret tidak memaksakan salah satu agama pun pada putri satu-satunya itu. Mereka memberikan kebebasan bagi Margaret untuk memilih agamanya sendiri jika kelak dia sudah dewasa. Apakah itu membuat kebingungannya hilang? Tentu saja tidak. Lebih buruknya lagi, dia seolah mendapat semacam ‘tekanan’ dari kakek-neneknya - dari kedua belah pihak - yang ingin Margaret menganut agama yang mereka anut.

Dia juga merasa berbeda dengan teman-temannya yang sudah menganut agama masing-masing. Dia belum pernah sekalipun pergi ke tempat ibadah, sementara teman-temannya pergi ke tempat ibadah agama masing-masing. Dan mungkin itulah yang membuat dia sangat membenci hari raya keagamaan. Hingga suatu hari, guru kelasnya memberikan proyek bagi dia dan teman-teman sekelasnya yang harus dikerjakan selama mereka berada di kelas enam. Dan dia memutuskan untuk membuat pencariannya akan agama yang ia ingin anut sebagai proyeknya. Dan berikut ungkapan kegelisahan hatinya:

Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Bagaimana pendapatMu kalau aku memilih topic proyek tentang agama? Kau tidak keberatan, bukan, Tuhan? Aku akan menceritakan semuanya kepadaMu. Dan aku tidak akan mengambil keputusan apa pun tanpa meminta izinMu lebih dulu. Kupikir, sudah waktunya aku menentukan agama yang ingin kupeluk. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi orang tanpa agama, ya, kan?

Margaret dan Tuhan
Untuk mendapatkan materi yang akan digunakan dalam laporan proyeknya, dia mengunjungi rumah ibadah neneknya – ibu dari ayahnya. Tapi sayangnya, dia tidak merasakan kehadiran Tuhan di sana. Dia ikut merayakan hari raya keagamaan yang dirayakan oleh temannya yang satu agama dengan ibunya, tapi dia juga tidak merasakan Tuhan di sana. Dia pernah masuk ke rumah ibadah Laura Danker, dan dia pun tidak merasakan kehadiran Tuhan di sana.

Margaret memang belum memutuskan untuk menganut satu agama pun. Tapi dia merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dia merasakan Tuhan dekat di hatinya. Dia selalu berkomunikasi dengan Tuhan. Dia selalu curhat mengenai segala sesuatu yang dia rasakan kepada Tuhan. Bahkan masalah pribadi sekali pun dia curhatkan kepada Tuhan. Bahkan ketika dia merasa bagian dadanya tidak berkembang sepesat Laura Danker, dia menceritakannya pada Tuhan. Tuhan menjadi tempat curhat eksklusif bagi dia. Tempat curhat paling nyaman dan tentunya bebas gosip.

Adakah Kau di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Aku sebenarnya tidak ingin merepotkan Kau, Tuhan. Maksudku, aku tahu Kau sangat sibuk. Tetapi sekarang sudah bulan Desember dan aku masih belum tumbuh juga. Bukankah sudah waktunya, ya Tuhan? Bukankah aku sudah menunggu dengan sabar selama ini? Tolonglah aku.

Tuhan, Ini Aku, Margaret
Buku ini memang sangat cocok dibaca oleh gadis-gadis remaja /pra-remaja yang mengalami permasalahan yang sama. Tapi tidak tertutup juga buat pembaca yang lebih dewasa maupun yang berjenis kelamin laki-laki, karena buku ini tidak hanya membahas masalah tersebut.

Buku ini juga bercerita tentang seorang anak perempuan yang sedang mencari agama yang akan dia anut. Tapi pembahasannya sepertinya memang disengaja tidak terlalu mendalam, jadi jangan takut akan membuat anak-anak remaja/pra-remaja yang membaca menjadi bingung. Biarlah hanya Margaret yang merasa bingung.

Buku lama yang diterjemahkan dan diterbitkan GPU tahun 1991 ini bukanlah buku agama. Tapi hanyalah sebuah buku yang menceritakan kehidupan seorang gadis pra-remaja dalam masa transisi menuju remaja, yang juga dalam masa transisi untuk menentukan agama yang akan dia peluk. Dikisahkan dengan bahasa yang ringan dengan sisipan-sisipan kelucuan yang berkelas (sama sekali tidak garing) di beberapa bagian.

Tuhan ada di mana-mana, dan dia hanya sejauh doa. Jadi, mari curhat!

Dan diakhir cerita, Margaret berkomunikasi dengan Tuhan yang dia kenal:
Apakah Kau masih di situ, Tuhan? Ini aku, Margaret. Aku tahu, Kau masih ada di situ, Tuhan. Aku tahu bahwa Kau tahu! Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak . . .

Direkomendasikan pada semua orang, semua jenis kelamin. Oh iya, kredit buat penerjemahnya, keren euuyii. Terjemahan ter-enak (dibaca) dari GPU yang pernah saya baca sampai saat ini.

Garis Perempuan

Saya memilih beberapa paragraf berikut yang menurut saya cocok untuk menggambarkan isi buku ini:

“Keperawanan ora tergantung bancaan. Dengan atau tanpa bacaan semua perempuan tetaplah perawan. Dibancaki puluhan tampah pun, kalau tidak bisa menjaga keperawanannya dengan baik, ya percuma. Nasi bancaan, seberapa kekuatannya? Lha wong cuma sega [itu sekadar nasi:]. Zaman sudah sesulit ini, tidak bisa diadang atau diatasi segala kegilaan zaman itu cuma dengan nasi bancaan.”.:Hal 15:.

Dimengertinya kini apa yang dikatakan Masari sesaat lalu. Bahwa poligami merupakan salah satu problem perkawinan yang berpotensi memecah belah perempuan. Memosisikan para perempuan sebagai lawan satu dengan yang lain, dalam upaya mendapatkan pembagian berupa perhatian dan cinta. .:Hal 105:.

Ketika seseorang melakukan sesuatu terhadap orang lain, yang sesungguhnya tidak diinginkan pihak lain, berarti terdapat unsur pemaksaan. Bila unsur pemaksaan itu dipaksakan, yang terjadi kemudian adalah pemerkosaan. Namun, bagaimana seseorang yang dianggap pelaku, tidak menyadari bahwa dia ‘memaksa’?.:Hal 109:.

”… dalam rupiah tidak banyak yang diberikan karak-karak itu kepadaku. Tapi, paling tidak karak-karak tidak menjadikan aku sebagai pelacur di dalam rumahku sendiri dan tidak membiarkan diriku diperkosa suami seminggu dua kali atas nama perkawinan.”.:Hal 114:.

“Ada istilah komodifikasi tubuh menjadikan tubuh sebagai komoditas barang dagangan. Bahwa kemudian kau memosisikan tubuhmu, khususnya keperawananmu sebagai komoditas dan mengeksplorasinya sebagai penghasil keuntungan secara finansial, itu adalah sebuah hak.”.:Hal 197:.

*****

Buku ini memang banyak membahas tentang keperawanan, dan juga sedikit mengenai posisi perempuan dalam poligami. Tapi menurut saya, buku ini lebih banyak bercerita tentang perempuan dan hak-nya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan, keperawanan hanya sebagai simbol untuk menggambarkannnya. Keperawanan milik mereka, dan biarkan mereka yang memutuskan akan diperlakukan seperti apa keperawanan itu.

Dan kami para lelaki, masih banyak yang menginginkan calon istrinya seorang perawan, dan banyak juga yang tidak terlalu memperdulikannya. Itu juga pilihan. Masing-masing punya pilihan untuk dijalani, jadi saling menghargai saja.

*****

Pada bab-bab awal, saya sangat menyukai kalimat-kalimat yang membangun cerita dalam buku ini. Indah! Tapi lama-lama, maaf, saya kok jadi merasa bosan. Mungkin, paragraf berikut bisa menggambarkan perasaan saya.

“Cantik saja tidak selalu cukup. Sering kali persoalannya bukan soal cantik atau tidak, tapi selalu pada kebutuhan terhadap variasi. Istri cantik bagi suami bisa jadi serupa sepiring bistik. Memang enak, tapi kalau yang terhidang bistik terus ya bosen juga. Maka, bisa jadi gado-gado atau pecel akan menjadi selingan yang menyegarkan.”.:Hal 136:.

Intinya, beberapa kalimat-kalimat “gado-gado” atau “pecel” sebagai selingan mungkin akan membuatnya tetap terasa segar dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir.

The Five People You Meet in Heaven

Review ini akan saya mulai dengan dua kutipan berikut:
“Itu karena tak seorang pun dilahirkan dengan membawa rasa marah. Dan ketika kita mati, jiwa kita dibebaskan dari rasa marah itu…” Hal 146

“Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Beri maaf, Edward, beri maaf…” Hal 145

Kelahiran menjadi awal dari kehidupan di dunia ini. Dan kematian di dunia menjadi akhir dari sebuah kehidupan di dunia. Akhir yang akan menjadi awal kehidupan di alam baka. Dan apakah kita akan membawa racun itu ke alam baka?

Akhir yang menjadi awal. Cerita dalam buku ini diawali dari 50 menit sebelum kematian tokoh utamanya, Edward. Bekerja sebagai maintenance di sebuah taman hiburan bernama Ruby Pier, saat itu Eddie, panggilan akrabnya, sedang berkeliling untuk memeriksa situasi taman hiburan itu. Kecelakaan terjadi, sebuah kabin di wahana Freddy’s Free Fall terlihat miring dan siap memuntahkan penghuninya. Empat penumpang dalam bahaya. Setelah melakukan tindakan penyelematan, kabin itu akhirnya terjatuh dan siap menimpa seorang gadis cilik yang terkapar dan sedang menangis di landasan di bawahnya. Eddie melompat untuk mencoba menyelamatkan gadis cilik itu. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, Eddie merasa dua tangan kecil di dalam genggaman tangannya. Itu yang dia ingat. Tapi sama sekali tidak tahu apakah dia berhasil menyelamatkan gadis cilik itu atau tidak.

Cerita kemudian berlanjut secara bergantian, dari peristiwa di masa lalu ke peristiwa di masa kini, lalu ke pertemuan Eddie dengan beberapa orang di alam baka. Dan seterusnya. Meskipun begitu, menurut saya Mitch Albom merangkai kepingan-kepingan cerita itu dengan mulus. Saya sama sekali tidak tersesat saat membacanya karena jalan cerita tetap terjaga dengan baik.

Lima orang yang ditemui Eddie di alam baka itu adalah orang-orang yang semasa hidup memiliki kaitan dengan kehidupan Eddie. Ada yang dia kenal, tapi ada juga yang tidak. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya jadi tahu kalau selama bertahun-tahun, Eddie menyimpan rasa marah, penyesalan, dan kesepian dalam hatinya. Masa kecilnya dibentuk oleh tangan-tangan yang keras, kapalan, dan merah oleh rasa marah. Juga cambukan, sabetan, dan pukulan. Kekerasan fisik. Selain itu, dia juga kurang mendapatkan perhatian. Kekerasan psikis.

Eddie melakukan pekerjaannya di Ruby Pier hanya sebagai tugas belaka. Dia menjalani hidupnya dengan perasaan hampa. Hidupnya seolah tidak bermakna dan sia-sia. Dia tidak menyadari kalau hidupnya berhubungan dengan hidup orang lain. Tidak sadar kalau perjalanan hidupnya memberi pengaruh juga pada hidup orang. Hingga akhirnya dia meninggal.

Melalui kelima orang itu, Eddie belajar untuk berdamai dengan dirinya. Dan saya belajar dari pertemuan-pertemuan itu.

Pertemuan pertama, Eddie dengan Orang Biru: Saya semakin yakin kalau tidak ada peristiwa yang kebetulan terjadi dalam dunia ini. Setiap kejadian memiliki maknanya masing-masing. Setiap tindakan dan perkataan, disadari atau tidak, secara langsung atau tidak, sedikit banyak memberi pengaruh pada kehidupan orang lain. Apa yang terjadi di masa lalu, itulah yang membentuk saya hari ini. Dan apa yang saya putuskan untuk lakukan hari ini akan berpengaruh pada apa yang akan saya hadapi di masa depan.

Pertemuan kedua, Eddie dengan Kapten: Pertemuan mereka mengubah cara pandang saya akan kata pengorbanan. Sebelumnya, saya menganggap pengorbanan sebuah kata yang bermakna negatif, berkaitan dengan keterpaksaan, ketidakrelaan, ketidakiklasan.

“Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar…” Hal 97

Dalam pengertian saya yang baru, pengorbanan seharusnya dilakukan sebagai bentuk pengabdian. Tidak selalu terfokus dengan hasil. Menurut saya, saat itu Eddie sangat terfokus dengan hasil pengorbanannya saat berusaha menyelamatkan anak perempuan dari kecelakaan di wahana itu. Dia selalu bertanya-tanya, apakah anak perempuan itu selamat? Apakah kematiannya akan sia-sia jika ternyata anak perempuan itu tidak selamat? Tidak ada kematian yang sia-sia. Bahkan menurut saya, kematian orang yang mati bunuh diri pun tidak akan sia-sia jika orang lain bisa belajar sesuatu yang positif dari hal itu. Jadi bukan kematian itu yang sia-sia, tapi orang disekitar kematian itulah yang menyia-nyiakannya.

“Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sunguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain.” Hal 97

Pertemuan ketiga, Eddie dengan Ruby: Melihat sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Tidak hanya dari sudut pandang saya, tapi juga dari sudut pandang orang lain. Kenapa orang melakukan ini? Kenapa orang melakukan itu? Pasti ada alasannya. Ketika tahu alasannya, saya akan lebih mampu memahami apa yang terjadi. Saya akan lebih mampu untuk memaafkan orang lain. Dalam hal ini, Eddie bisa memahami perilaku ayahnya.

Pertemuan keempat, Eddie dengan Marguerite: Eddie sangat marah karena begitu cepat ditinggal mati oleh Marguerite, istri yang sangat dia cintai. Dia tidak pernah menginginkan perempuan lain kecuali istrinya ini. Belajar untuk melepaskan orang yang sangat dicintai. Seharusnya kematian tidak berhubungan dengan kesedihan, tapi pada kerelaan dan kemampuan saya untuk melepaskan.

“Kehidupan harus berakhir,” kata Marguerite. “Tapi cinta tidak.” Hal 179

Pertemuan kelima, Eddie dengan Tala: Dari Tala, misteri tentang nasib anak perempuan yang Eddie coba selamatkan itu pun terungkap. Hmm, saya lebih baik tidak bercerita tentang siapa Tala ini. Daripada kena timpuk karena memberikan spoiler. Jadi baca sendiri saja ya...

“Kau mendapat kedamaian,” kata si wanita tua, “setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.” Hal 116

Setuju. Bagaimana bisa kita berdamai dengan orang lain ketika kita tidak terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dan Eddie pun berdamai dengan dirinya sendiri. Rasanya plong!!! Rasa marah, penyesalan, dan kesepian yang selama ini terendap dalam dirinya, hilang sudah.

Eddie meninggal pada usia 83 tahun. Kehidupan yang cukup lama. Tapi makna hidup ternyata tidak tergantung pada seberapa lama seseorang hidup di dunia ini, tapi seberapa bermakna hidupnya selama berada di dunia ini.

Setelah membaca buku ini, saya jadi merasa punya hubungan kehidupan dengan Eddie, mungkinkah dia menjadi salah seorang dari lima orang yang akan saya temui setelah saya meninggal kelak???

Selasa Bersama Morrie: Pelajaran Tentang Makna Hidup

ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) adalah penyakit yang mempengaruhi sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan otot melemah dan menciut (atrofi). Penyakit ALS juga dikenal dengan nama Lou Gehrig, yang diambil dari nama pemain baseball terkenal dari tim New York Yankees. Lou Gehrig didiagnosis menderita ALS sehingga mengakhiri karirnya sebagai pemain baseball pada tahun 1939. Sementara orang Inggris dan Australia, menyebut ALS sebagai Motor Neuron Disease (MND) atau penyakit saraf-saraf Motorik. Sedangkan orang Perancis mengistilahkannya sebagai Malide de Charcot, yang diambil dari nama Dr.Jean-Martin Charcot – orang pertama yang menulis mengenai ALS pada tahun 1869.

Gejala awal ALS mungkin sering diabaikan, seperti berkedut, kram (kaku otot), lemah otot lengan atau kaki (sering terjatuh atau tersandung atau menjatuhkan barang), bicara melantur atau kesulitan berbicara, mengunyah dan menelan. Gejala lanjutannya, seperti kesulitan bernapas dan mengalami kelumpuhan. Sekilas, penyakit ini memiliki gejala yang sama dengan penyakit-penyakit lain yang mempengaruhi saraf dan otot tubuh, misalnya: parkinson dan stroke.

Asosiasi ALS di Amerika Serikat menegaskan, penyakit ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak dan remaja. Meski data yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang terkena penyakit ALS adalah orang dewasa yang berusia antara 40 hingga 70 tahun. Populasi penderitanya pun terbilang sedikit, hanya dialami oleh 2 dari 100,000 orang setiap tahunnya. ALS bukanlah penyakit menular, dan 90% kasus bukan merupakan penyakit yang diturunkan. Hanya sekitar 5-10% penderita ALS yang memiliki hubungan keluarga.

ALS tidak mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melihat, mencium, merasakan, mendengar, atau mengenali sentuhan. Pasien biasanya mempertahankan kontrol otot mata dan fungsi kandung kemih dan usus, meskipun pada tahap akhir penyakitnya, pasien membutuhkan bantuan untuk ke kamar mandi.

Saat penyakit semakin parah, otak penderita pada akhirnya tidak dapat mengendalikan pergerakan otot. Ketika otot dalam diafragma dan dinding dada gagal berfungsi, penderita akan kehilangan kemampuan untuk bernapas tanpa bantuan ventilasi. Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pada otot-otot pernapasan.

Kebanyakan penderita ALS hanya bertahan hidup 2 sampai 5 tahun setelah diagnosis. Tetapi ada pengecualian untuk Stephen Hawking, yang bisa bertahan hidup selama 47 tahun sejak ia memiliki penyakit ALS.

* * * * *

Penyakit ALS inilah yang menyerang Morrie di usianya yang sudah tujuh puluhan. Menggerogoti dan melumpuhkan tubuhnya pelan-pelan. Hingga untuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi pun dia harus dibantu oleh orang lain.

Apakah aku akan menyerah dan mati begitu saja, atau akan memanfaatkan sisa waktuku sebaik-baiknya?

Pertanyaan itu biasanya muncul di kepala orang yang divonis tidak akan berumur panjang. Pilihannya adalah menyerah atau berjuang. Morrie tidak menyerah. Dia memilih berjuang dan menjadikan dirinya yang sudah sekarat menjadi proyek terakhirnya. Mata kuliah terakhir yang dia bagikan sebelum meninggal. Proyek makna hidup yang menjadi pusat perhatiannya selama menjalani sisa hari-harinya. Dia ingin orang lain bisa belajar tentang makna hidup dari proses kematiannya yang berjalan lambat.

‘Kuliah’ itu berlangsung setiap hari Selasa. Dan cukup banyak pesan dan pelajaran yang dititipkan Morrie lewat Mitch Albom untuk saya, dan mungkin juga untuk Anda yang berniat membacanya. Diantaranya, semangat kasih, kepercayaan terhadap orang lain, persahabatan, keluarga, perkawinan, betapa pentingnya pendidikan.

Halaman-halaman buku pinjaman dari Roos ini, saya tempeli dengan banyak kertas penanda. Sangat banyak kalimat menarik yang saya temukan. Satu yang paling menarik menurutku adalah...

“Ted, penyakit ini juga menyerang jiwaku. Tapi ia tidak akan mendapatkannya. Hanya tubuhku yang kena. Bukan jiwaku.” hal 173

Saya juga jadi tertarik untuk mengadakan “acara pemakaman” bahkan sebelum saya meninggal, seperti yang dilakukan oleh Morrie. Saya ingin mendengar langsung apa kesan orang mengenai hidup yang saya jalani. Saya ingin mendengarnya ketika saya masih bernafas, bukan ketika saya sudah terbujur kaku di dalam peti mati. Saya ingin benar-benar melihat seberapa banyak orang yang tulus datang di “acara pemakaman” saya. Saya ingin menyaksikan apakah hidup saya sudah berarti bagi banyak orang, setidaknya bagi orang-orang di sekeliling saya.

Melalui buku ini, Morrie kembali mengingatkan saya untuk menjalani hidup hari ini seolah-olah besok adalah hari kematian saya. Jadi, akan seperti apa saya menjalani hidup hari ini?

Dan lagu ini akan menjadi salah satu soundtrack hidup saya hari ini:

Live Like We're Dying - Kris Allen

Sometimes we fall down, can't get back up; We're hiding behind skin that's too tough
How come we don't say I love you enough; Till it's to late, it's not too late

Our hearts are hungry for a food that won't come; And we could make a feast from these crumbs
And we're all staring down the barrel of a gun; So if your life flashed before you,
What would you wish you would've done

Yeah, we gotta start looking at the hands of the time we've been given;
If this is all we got and we gotta start thinking; If every second counts on a clock that's ticking
Gotta live like we're dying

We only got 86,400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away
We gotta tell them that we love them; While we got the chance to say
Gotta live like we're dying

And if your plane fell out of the skies; Who would you call with your last goodbye
Should be so careful who we live out our lives; So when we long for absolution,
There'll no one on the line, yeah

Yeah, we gotta start
Looking at the hands of the time we've been given; If this is all we got and we gotta start thinking
If every second counts on a clock that's ticking; Gotta live like we're dying

We only got 86,400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away
We gotta tell them that we love them; While we got the chance to say
Gotta live like we're dying

Like we're dying, oh, like we're dying..

You never know a good thing till it's gone; You never see a crash till it's head on
Why do we think we're right when we're dead wrong; You never know a good thing till it's gone

Yeah, we gotta start
Looking at the hands of the time we've been given; If this is all we got and we gotta start thinking
If every second counts on a clock that's ticking; Gotta live like we're dying

We only got 86,400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away
We gotta tell them that we love them; While we got the chance to say
Gotta live like we're dying

Like we're dying, oh, like we're dying..
We only got 86,400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away
We gotta tell them that we love them; While we got the chance to say
Gotta live like we're dying..

To Discriminte Means To Kill a Mockingbird

Etnis Afrika-Amerika, yang sekarang lebih sering disebut sebagai Afro-Amerika adalah kelompok etnis di Amerika Serikat yang nenek moyangnya berasal dari Afrika di bagian Sub-Sahara dan Barat. Umumnya, rakyat etnis Afro-Amerika berdarah Afrika, Eropa, dan Amerika asli. Dulu, etnis ini sering disebut dengan sebutan “negro” atau “colored” yang juga merujuk kepada warna kulit hitam orang yang bukan penduduk Amerika Serikat. Namun sekarang, sebutan kulit hitam atau “black people” lebih sering digunakan karena penggunaan kata “negro” dan “colored” dianggap sebagai penghinaan bagi etnis Afro-Amerika ini. Bahkan, kata-kata tersebut juga sering digunakan untuk mendiskriminasikan mereka.

Sejarah masuknya bangsa kulit hitam ke Amerika Serikat, dimulai dengan diperdagangkannya bangsa ini ke Amerika bagian Selatan sejak tahun 1607 sebagai budak. walaupun pada akhirnya pengimporan bangsa kulit hitam ini dilarang pada tahun 1807. Bahkan, setelah Abraham Lincoln, salah satu tokoh yang menentang perbudakan dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 1860, perbudakan pun dihapuskan melalui status hukum pada tahun 1863. Berdasarkan sensus di Amerika Serikat, pada tahun 1790, populasi warga Afro-Amerika berjumlah 757.208 atau 19,3% dari total populasi Amerika Serikat pada saat itu. Dan, jumlah itu terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun hingga berjumlah 37,1 juta jiwa pada tahun 2003.

Namun, seiring dihapuskannya sistem perbudakan di Amerika Serikat, perlakuan berbeda dan tindakan diskriminasi rasial masih terasa kental diawal dan pertengahan abad ke-20, dan itu pula yang membuat bangsa kulit hitam mulai bangkit selawan diskriminasi terhadap etnis mereka. Puncak dari perlawanan mereka terjadi pada tahun 1960-an yang ditandai dengan munculnya Gerakan Hak Asasi Manusia yang dipimpin oleh Martin Luther King, Jr dan juga Roy Wilkins yang menuntut perlakuan yang lebih baik terhadap bangsa kulit hitam. 

Kini, kelompok etnis ini bisa mendapatkan kehidupan dan perlakuan yang lebih baik dan manusiawi baik dibidang ekonomi maupun sosial, meski tidak dapat dipungkiri kalau diskriminasi itu masih kerap terjadi yang terbukti dengan masih adanya kesulitan-kesulitan yang dialami oleh kelompok etnis ini untuk akses kesehatan dan mendapatkan pekerjaan. Salah satu tokoh muslim yang juga ikut memperjuangkan penghapusan diskriminasi terhadap kaum Afro-Amerika adalah Malcom X yang mendirikan Organization of Afro-American Unity pada 28 Juni 1964.

Pada tanggal 11 Juli 1960, Harper Lee menerbitkan sebuah novel berjudul “To Kill a Mockingbird” yang ceritanya didasarkan pada pengamatannya terhadap keluarga, tetangga-tetangga, serta kejadian-kejadian diskriminasi rasial yang terjadi sekitar tahun 1936, dimana saat itu Haper Lee masih berumur 10 tahun. Novel ini sendiri telah diulas di setidaknya 30 koran dan majalah, serta menempati peringkat teratas setelah Injil, sebagai buku yang harus dibaca orang sebelum meninggal (every adult should read before they die). Novel “To Kill a Mockingbird” menjadi satu-satunya karya Harper Lee yang diterbitkan.

Pada tahun 1962, novel ini pun diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul sama, yang disutradarai oleh Robert Mulligan. Film “To Kill a Mockingbird” berkisah tentang seorang duda bernama Atticus Finch (Gregory Peck), yang berprofesi sebagai pengacara di daerah Monroeville, Alabama pada tahun 1932. Dia mempunyai dua anak yakni Jem Finch (Philip Alford) dan Scout Finch (Mary Badham). Pada saat itu, Atticus menjadi pengacara yang membela seorang lelaki kulit hitam bernama Tom Robinson (Brock Peters), yang dituduh melakukan tindak pemerkosaan terhadap seorang perempuan kulit putih bernama Mayella Violet Ewell (Collin Wilcox). 

Konflik film ini menjadi menarik karena pada saat itu diskriminasi terhadap kulit hitam masih berlangsung, yang membuat sebagian besar kulit putih merasa berhak menghukum kaum yang menurut mereka adalah warga kelas dua. Warga sekitar sendiri sangat menyayangkan kenapa Atticus mau menjadi pembela kulit hitam di pengadilan. Adapun kasus ini sendiri adalah kasus fitnah yang mirip dengan kasus Yusuf yang difitnah dan dituduh hendak memperkosa istri Potifar seperti tertulis dalam Kitab Suci. Sepertinya halnya Yusuf, Tom Robinson akhirnya dinyatakan bersalah oleh para juri yang mendapatkan tekanan dari kelompok masyarakat pembenci kulit hitam, dan kemudian dibunuh dengan alasan melarikan diri dalam perjalanan ke penjara. 

Karakter Jem dan Scout sendiri sangat memainkan peran penting dalam membuat film ini lebih hidup. Mereka digambarkan sebagai anak-anak yang ceria, punya jiwa petualang, serta punya prinsip dalam hidup terutama dalam membela keadilan. Film hitam-putih yang berdurasi 2 jam dan 11 menit, dirilis pada tanggal 25 Desember 1962 dan didistribusikan oleh Universal Pictures. Film ini berhasil meraih tiga piala Oscar dari sembilan nominasi untuk kategori Aktor Terbaik (Best Actor), Skenario Adaptasi Terbaik (Best Adapted Screenplay), dan Artistik Terbaik untuk film jenis Hitam Putih Terbaik (Best Black and White Art Direction).

Kenapa berjudul “To Kill a Mockingbird”? Kalau diperhatikan di salah satu narasi cerita film ini, sempat dijelaskan tentang karakteristik burung Mockingbird. Burung ini digambarkan sebagai burung yang tidak pernah bersarang di atap rumah, dan tidak pernah mengambil hasil ladang para petani. Intinya burung ini tidak pernah merugikan orang, malahan burung ini mengeluarkan suara yang sangat merdu untuk menghibur orang. 

“To Kill a Mockingbird” bisa diartikan membunuh makhluk yang tidak berdosa. Sama dengan para korban tindakan diskriminasi rasial, mereka tidak memilih untuk dilahirkan sebagai kulit hitam, dan mereka juga tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Melakukan tindakan diskriminasi terhadap mereka (atau pun diskriminasi untuk isu lain) sama saja dengan membunuh mereka, mungkin tidak selalu secara fisik tapi secara psikis. Namun, bukankah membunuh secara psikis biasanya lebih sakit rasanya. Melakukan tindakan diskriminasi berarti “you are killing a mockingbird!”.

Senin, 16 Agustus 2010

View from the Top. At Night (ONLY)!!!

So, what do you think about Jakarta?
Oh, it's a beautiful country ehhh...city. (keseleo lidah) :p

Itu kata bule yang baru pertama kali berkunjung ke Jakarta. Bagi saya, Jakarta hanya terlihat indah di waktu malam. Itupun saat berada di dalam pesawat yang baru lepas landas dari bandara Soetta. Jakarta yang terlihat gelap dihiasi lampu-lampu. Sangat indah.

Senin, 19 Juli 2010. Pukul 18.17 WIB. Halte Busway Duren Tiga, Mampang.

Ternyata, (jalanan) Jakarta juga terlihat indah saat banjir. Tetapi (tetap) harus di waktu malam., dan dilihat dari atas jembatan penyeberangan. Saat cahaya lampu motor dan mobil memantul di air yang menggenangi badan jalan.



Duet Maut ???

16 Juli 2010. KOPAJA 57, menjelang malam.


Di depan Kalibata Mall, aku melompat ke dalam Kopaja. Tumben, masih ada kursi yang tersisa untukku di bagian tengah. Biasanya, aku berdiri, terhimpit diantara penumpang yang penuh sesak. Mau baca buku, tata cahaya dalam Kopaja jelas tidak mendukung. Suram. Aku duduk, diam, bengong. Kopaja pun ikutan bengong . . . ngetem.

Lima menit kemudian. Jreng...jreng…

Terdengar musik intro dari ukulele yang dimainkan seorang lelaki. Kopaja mulai bergerak memperdengarkan suara mesinnya yang meraung kasar. Pemain ukulele menatap perempuan di sebelahnya, memberi kode agar perempuan itu segera menyanyi. Tapi sepertinya, perempuan itu tidak mendengar bunyi ukulele itu dengan jelas. Dia mendekatkan telinganya untuk memastikan bunyi yang dikeluarkan ukulele akan berada dalam satu nada dasar dengan suaranya.

“Separuh jiwaku pergi….”

Perempuan mulai menyanyi. Suaranya melengking. Ngos-ngos-an. Urat-urat dilehernya timbul. Sangat terlihat menonjol ingin keluar dari kulit lehernya. Terlihat jelas, itu adalah nada tertinggi yang bisa dia capai. Mungkin, lelaki pemain ukulele itu hanya bisa memainkan lagu dalam satu nada dasar saja. Mungkin hanya pada nada dasar C. Jadi, mau tidak mau, perempuan itu harus menyanyikan lagu apapun dengan nada dasar C. Tidak boleh berubah. Atau dia akan menyanyi tanpa iringan musik. Mungkin…

Lagu Anang Hermansyah itu mereka bawakan secara duet. Mungkin terinspirasi dengan duet Anang - Syahrini. Lelaki itu berpenampilan biasa saja, kaos oblong, celana jeans, dan sandal jepit. Sementara penampilan perempuan itu terlihat berbeda, cukup rapi. Malah, sangat rapi jika dibandingkan dengan pengamen yang biasa saya lihat di angkutan umum.

Rambutnya digulung ke atas dan diikat seperti konde kecil. Telinganya dihiasi anting-anting. Kalung melingkari lehernya. Gelang tidak ketinggalan. Celana jeans skinny yang dipadu dengan atasan warna putih model baju perempuan, agak ketat. Cocoklah untuk dipakai sebagai kostum panggung untuk lomba nyanyi. Baiklah, warna putih bajunya sudah mulai terlihat kotor karena terkena debu. Apalagi (mungkin) sudah dipakai melompat dari satu kopaja ke kopaja lain dari tadi pagi. Tapi, cahaya suram di dalam kopaja membantu menyamarkannya.

Bait awal, mereka berdua berpandangan mesra. Mata ketemu mata. Senyum merekah. Prikitiuuu…!!!

Masuk ke refrain, si perempuan mencolek dagu dan kemudian pipi si lelaki. Lelaki itu tersenyum. Si perempuan melirik genit ke arah penumpang sambil tetap menyanyi dan meliuk-liukkan tubuhnya.

Bait kedua diambil alih oleh si lelaki, diiringi oleh gerakan tangan si perempuan yang bergerak kesana kemari. Sekali-sekali, kembali melirik genit ke arah si lelaki dan ke penumpang (penonton). Si lelaki membalas lirikan itu dengan senyuman. Seolah sedang syuting video klip. Barusan aku cek lirik lagu itu di internet , ternyata lagu itu menceritakan sebuah kesedihan karena pengkhianatan. Angkat jempol untuk percaya dirinya dalam menginterpretasikan lirik lagu itu.

Aku tidak tahu seperti apa reaksi para penumpang lainnya, tapi seorang ibu yang duduk di kursi sebelahku menundukkan kepala sambil tersenyum. Entah merasa geli atau malah muak. Kemudian, berbisik-bisik pada anak perempuannya. Aku terdiam, takjub. Bukan karena suara mereka yang merdu, tapi karena adegan mesra itu.

Setelah menyanyikan bagian refrain beberapa kali, pertunjukan selesai. Tapi, aku masih takjub. Dan tetap, bukan karena duet itu terdengar merdu, karena memang sama sekali tidak merdu. Tapi karena, (lagi-lagi) adegan mesra itu. Kenapa???

Lelaki itu berumur antara 17 - 20 tahun, sementara perempuan itu masih kecil? Mungkin masih 5 tahun, atau paling tua masih 6 tahun.

Time is Money?? Time is Precious!!

Jalanan Jakarta dan sekitarnya hampir setiap hari berhiaskan kemacetan. Waktu tempuh menuju tempat tujuan sering tidak bisa diprediksi. Setengah jam, satu jam, tidak jarang sampai dua jam lebih. Duduk di angkot. Berdiri di dalam Metromini. Berhimpitan di Kopaja. Berdesakan di bis Transjakarta. Buang-buang waktu? Tergantung...

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu selama dalam perjalanan. Bengong. Mendengarkan musik melalui iPod, MP3 player, atau handphone. Bergosip? Kenapa tidak. Baca buku? Tentu saja. Tapi dengan catatan dapat tempat duduk. Baca buku sambil berdiri di dalam Kopaja atau Metromini yang melaju kencang sambil meliuk-liuk tentu tidaklah nyaman.

Minggu, 25 Juli 2010. Pukul 12.16 WIB. Di dalam angkot dari Ciputat menuju Poinsquare, Lebak Bulus.

Seorang perempuan muda mendengarkan MP3 melalui handphone-nya. Ehhh, entahlah, mungkin dia mendengarkan radio. Yang pasti, sepasang earphone menempel di kedua telinganya, dan kepalanya bergoyang-goyang. Seorang bapak duduk diam memangku tasnya di samping saya. Sementara empat orang ibu-ibu berdandan menor sedang mengobrol - lebih tepatnya bergosip - dengan begitu semangat. Mereka dengan serius membicarakan si A yang begini, si B yang begitu, dan si X yang begono. Saya mengeluarkan buku dari dalam tas.

Angkot berhenti, dan masuklah seorang ibu. Duduk dan segera mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang tadi ditentengnya. Ditengah-tengah hingar-bingar suara klakson angkutan umum, ditambah suara keempat ibu menor yang saling sahut menyahut, ibu itu diam dan langsung beraksi. Jari-jarinya dengan lincah menari-nari memainkan benang. Diulur, ditarik, dikaitkan. Merajut.

Saya langsung mengeluarkan handphone, pura-pura baca SMS, nggak taunya mengambil gambar. Tambah lagi satu pilihan kegiatan, photo-photo.

*Maaf, ngambil gambarnya diam-diam, dan mohon izin dipajang di sini ya, bu..... :) *