Di depan Kalibata Mall, aku melompat ke dalam Kopaja. Tumben, masih ada kursi yang tersisa untukku di bagian tengah. Biasanya, aku berdiri, terhimpit diantara penumpang yang penuh sesak. Mau baca buku, tata cahaya dalam Kopaja jelas tidak mendukung. Suram. Aku duduk, diam, bengong. Kopaja pun ikutan bengong . . . ngetem.
Lima menit kemudian. Jreng...jreng…
Terdengar musik intro dari ukulele yang dimainkan seorang lelaki. Kopaja mulai bergerak memperdengarkan suara mesinnya yang meraung kasar. Pemain ukulele menatap perempuan di sebelahnya, memberi kode agar perempuan itu segera menyanyi. Tapi sepertinya, perempuan itu tidak mendengar bunyi ukulele itu dengan jelas. Dia mendekatkan telinganya untuk memastikan bunyi yang dikeluarkan ukulele akan berada dalam satu nada dasar dengan suaranya.
“Separuh jiwaku pergi….”
Perempuan mulai menyanyi. Suaranya melengking. Ngos-ngos-an. Urat-urat dilehernya timbul. Sangat terlihat menonjol ingin keluar dari kulit lehernya. Terlihat jelas, itu adalah nada tertinggi yang bisa dia capai. Mungkin, lelaki pemain ukulele itu hanya bisa memainkan lagu dalam satu nada dasar saja. Mungkin hanya pada nada dasar C. Jadi, mau tidak mau, perempuan itu harus menyanyikan lagu apapun dengan nada dasar C. Tidak boleh berubah. Atau dia akan menyanyi tanpa iringan musik. Mungkin…
Lagu Anang Hermansyah itu mereka bawakan secara duet. Mungkin terinspirasi dengan duet Anang - Syahrini. Lelaki itu berpenampilan biasa saja, kaos oblong, celana jeans, dan sandal jepit. Sementara penampilan perempuan itu terlihat berbeda, cukup rapi. Malah, sangat rapi jika dibandingkan dengan pengamen yang biasa saya lihat di angkutan umum.
Rambutnya digulung ke atas dan diikat seperti konde kecil. Telinganya dihiasi anting-anting. Kalung melingkari lehernya. Gelang tidak ketinggalan. Celana jeans skinny yang dipadu dengan atasan warna putih model baju perempuan, agak ketat. Cocoklah untuk dipakai sebagai kostum panggung untuk lomba nyanyi. Baiklah, warna putih bajunya sudah mulai terlihat kotor karena terkena debu. Apalagi (mungkin) sudah dipakai melompat dari satu kopaja ke kopaja lain dari tadi pagi. Tapi, cahaya suram di dalam kopaja membantu menyamarkannya.
Bait awal, mereka berdua berpandangan mesra. Mata ketemu mata. Senyum merekah. Prikitiuuu…!!!
Masuk ke refrain, si perempuan mencolek dagu dan kemudian pipi si lelaki. Lelaki itu tersenyum. Si perempuan melirik genit ke arah penumpang sambil tetap menyanyi dan meliuk-liukkan tubuhnya.
Bait kedua diambil alih oleh si lelaki, diiringi oleh gerakan tangan si perempuan yang bergerak kesana kemari. Sekali-sekali, kembali melirik genit ke arah si lelaki dan ke penumpang (penonton). Si lelaki membalas lirikan itu dengan senyuman. Seolah sedang syuting video klip. Barusan aku cek lirik lagu itu di internet , ternyata lagu itu menceritakan sebuah kesedihan karena pengkhianatan. Angkat jempol untuk percaya dirinya dalam menginterpretasikan lirik lagu itu.
Aku tidak tahu seperti apa reaksi para penumpang lainnya, tapi seorang ibu yang duduk di kursi sebelahku menundukkan kepala sambil tersenyum. Entah merasa geli atau malah muak. Kemudian, berbisik-bisik pada anak perempuannya. Aku terdiam, takjub. Bukan karena suara mereka yang merdu, tapi karena adegan mesra itu.
Setelah menyanyikan bagian refrain beberapa kali, pertunjukan selesai. Tapi, aku masih takjub. Dan tetap, bukan karena duet itu terdengar merdu, karena memang sama sekali tidak merdu. Tapi karena, (lagi-lagi) adegan mesra itu. Kenapa???
Lelaki itu berumur antara 17 - 20 tahun, sementara perempuan itu masih kecil? Mungkin masih 5 tahun, atau paling tua masih 6 tahun.
Lima menit kemudian. Jreng...jreng…
Terdengar musik intro dari ukulele yang dimainkan seorang lelaki. Kopaja mulai bergerak memperdengarkan suara mesinnya yang meraung kasar. Pemain ukulele menatap perempuan di sebelahnya, memberi kode agar perempuan itu segera menyanyi. Tapi sepertinya, perempuan itu tidak mendengar bunyi ukulele itu dengan jelas. Dia mendekatkan telinganya untuk memastikan bunyi yang dikeluarkan ukulele akan berada dalam satu nada dasar dengan suaranya.
“Separuh jiwaku pergi….”
Perempuan mulai menyanyi. Suaranya melengking. Ngos-ngos-an. Urat-urat dilehernya timbul. Sangat terlihat menonjol ingin keluar dari kulit lehernya. Terlihat jelas, itu adalah nada tertinggi yang bisa dia capai. Mungkin, lelaki pemain ukulele itu hanya bisa memainkan lagu dalam satu nada dasar saja. Mungkin hanya pada nada dasar C. Jadi, mau tidak mau, perempuan itu harus menyanyikan lagu apapun dengan nada dasar C. Tidak boleh berubah. Atau dia akan menyanyi tanpa iringan musik. Mungkin…
Lagu Anang Hermansyah itu mereka bawakan secara duet. Mungkin terinspirasi dengan duet Anang - Syahrini. Lelaki itu berpenampilan biasa saja, kaos oblong, celana jeans, dan sandal jepit. Sementara penampilan perempuan itu terlihat berbeda, cukup rapi. Malah, sangat rapi jika dibandingkan dengan pengamen yang biasa saya lihat di angkutan umum.
Rambutnya digulung ke atas dan diikat seperti konde kecil. Telinganya dihiasi anting-anting. Kalung melingkari lehernya. Gelang tidak ketinggalan. Celana jeans skinny yang dipadu dengan atasan warna putih model baju perempuan, agak ketat. Cocoklah untuk dipakai sebagai kostum panggung untuk lomba nyanyi. Baiklah, warna putih bajunya sudah mulai terlihat kotor karena terkena debu. Apalagi (mungkin) sudah dipakai melompat dari satu kopaja ke kopaja lain dari tadi pagi. Tapi, cahaya suram di dalam kopaja membantu menyamarkannya.
Bait awal, mereka berdua berpandangan mesra. Mata ketemu mata. Senyum merekah. Prikitiuuu…!!!
Masuk ke refrain, si perempuan mencolek dagu dan kemudian pipi si lelaki. Lelaki itu tersenyum. Si perempuan melirik genit ke arah penumpang sambil tetap menyanyi dan meliuk-liukkan tubuhnya.
Bait kedua diambil alih oleh si lelaki, diiringi oleh gerakan tangan si perempuan yang bergerak kesana kemari. Sekali-sekali, kembali melirik genit ke arah si lelaki dan ke penumpang (penonton). Si lelaki membalas lirikan itu dengan senyuman. Seolah sedang syuting video klip. Barusan aku cek lirik lagu itu di internet , ternyata lagu itu menceritakan sebuah kesedihan karena pengkhianatan. Angkat jempol untuk percaya dirinya dalam menginterpretasikan lirik lagu itu.
Aku tidak tahu seperti apa reaksi para penumpang lainnya, tapi seorang ibu yang duduk di kursi sebelahku menundukkan kepala sambil tersenyum. Entah merasa geli atau malah muak. Kemudian, berbisik-bisik pada anak perempuannya. Aku terdiam, takjub. Bukan karena suara mereka yang merdu, tapi karena adegan mesra itu.
Setelah menyanyikan bagian refrain beberapa kali, pertunjukan selesai. Tapi, aku masih takjub. Dan tetap, bukan karena duet itu terdengar merdu, karena memang sama sekali tidak merdu. Tapi karena, (lagi-lagi) adegan mesra itu. Kenapa???
Lelaki itu berumur antara 17 - 20 tahun, sementara perempuan itu masih kecil? Mungkin masih 5 tahun, atau paling tua masih 6 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar