PERINGATAN: Tulisan ini adalah sotoy belaka. Segala efek samping yang ditimbulkan menjadi tanggung jawab pembaca :p
Bumi, sebagai tempat tinggal kita, merupakan milik Sang Pencipta. Dengan cinta, Dia mempercayakannya kepada kita untuk dipelihara dan dikelola, seharusnya juga dengan cinta. Setelah waktu kita habis kelak, Bumi dan segala isinya juga akan dipercayakan kepada penerus kita, anak-cucu kita. Dipercayakan bisa berarti diberi tugas dan tanggung jawab untuk menjaganya dengan baik. Apa yang bisa dinikmati oleh para pendahulu kita, seharusnya bisa dinikmati oleh para penerusnya. Seharusnya, sampai sekarang.
Ibarat meminjam buku dari teman, kita boleh membacanya sepuas hati tapi kita harus menjaga agar buku itu tidak rusak, apalagi sampai hilang. Bisa-bisa, kita tidak akan pernah dipercaya lagi untuk meminjam. (Oh tidak, jadi ingat kalau saya masih meminjam bukunya Roos, tapi sampai sekarang masih dalam antrian to read) Kita seharusnya bisa menjaganya seperti barang milik kita sendiri meskipun kita tidak benar-benar memilikinya.
Tapi, budaya orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ berkata, “Jika kita tidak memilikinya, kita tidak perlu memperdulikannya.” Orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ itu pun tidak menjaga alam yang dipercayakan padanya. Hanya mengeksploitasinya, mengeruk isinya tanpa ada niat yang serius untuk memulihkan kondisinya. Hutan dibabat membabi buta, tanah dikeruk dan ditambang semena-mena tanpa membiarkan alam bernafas sejenak untuk sekedar memulihkan kondisinya.
Alam pun akhirnya bereaksi. Tidak heran, semut kena injak saja menggigit. Kalau alam bisa berbicara, mungkin dia akan mengatakan, “Lu jual, gue beli!” Cuaca berubah-ubah, temperatur naik, udara semakin kotor, air tercemar, hutan tidak bisa lagi menahan air dan menyediakan udara segara, longsor, dan banjir. Bahkan, hewan-hewan di hutan pun ikut terusik. Lahan tempat mereka mencari makan semakin menyempit padahal banyak perut yang harus diisi. ‘Berkunjung’ ke perkampungan penduduk menjadi salah satu solusi. Konflik antara manusia dan binatang pun terjadi.
Seandainya kita memiliki cinta terhadap alam ini. Cinta yang benar-benar cinta seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya kolot dan tidak beradab. Seperti orang-orang Shuar di pedalaman Amazon. Selayaknya pemburu sejati, mereka hanya mengambil apa yang benar-benar mereka butuhkan dari alam. Tidak serakah untuk memuaskan keinginan semata. Mereka hanya berburu hewan-hewan yang benar-benar sudah dewasa. Bahkan mereka dengan rela hidup berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya hanya untuk memberikan lokasi yang mereka tempati sebelumnya bisa bernafas untuk memulihkan kondisinya alamnya.
Pak tua yang dikisahkan dalam buku karya Luis Sepulveda ini belajar dari orang-orang Shuar tersebut. Meski pak tua ini tidak pernah menjadi orang Shuar, tapi dia telah menjadi bagian dari mereka. Terlebih dalam hal bagaimana seharusnya memperlakukan alam yang telah banyak memberi sumber kehidupan bagi manusia. Ambil yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan.
Sebenarnya, pak tua ini berasal dari golongan orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’. Tapi, dia sangat gemar membaca kisah cinta. Kisah cinta yang ada sedihnya, yang ada penderitaan yang luar biasa, tapi dengan akhir yang bahagia. Dia memang tidak lancar membaca tapi dia berusaha untuk mengerti dan memahami setiap kata yang menyusun setiap kalimat yang dia baca dalam novel-novel percintaan itu. Mungkin, itulah yang menyebabkan dia bisa memahami apa itu cinta, penderitaan, kesedihan, dan kebahagiaan. Sehingga dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh mahkluk lain. Apalagi, saat dia menyaksikan sendiri bagaimana seekor macan betina menunjukkan rasa cintanya pada pasangannya.
Ketika kita merasa semakin pintar, merasa semakin beradab, dan merasa semakin moderen, kok kita semakin tidak menghargai alam dan hak mahkluk lainnya. Mungkin, kita harus lebih sering membaca kisah cinta seperti yang dilakukan oleh pak tua ini. Tidak sekedar membaca, tapi memahaminya agar cinta kepada alam yang pernah diajarkan oleh nenek moyang kita tidak terkikis oleh peradaban. Padahal, bukankan peradaban seharusnya membuat kehidupan di Bumi menjadi lebih baik? Haruskah kita mewariskan udara kotor, tanah gersang, air tercemar ataupun hutan yang gundul kepada mereka?
Bumi, sebagai tempat tinggal kita, merupakan milik Sang Pencipta. Dengan cinta, Dia mempercayakannya kepada kita untuk dipelihara dan dikelola, seharusnya juga dengan cinta. Setelah waktu kita habis kelak, Bumi dan segala isinya juga akan dipercayakan kepada penerus kita, anak-cucu kita. Dipercayakan bisa berarti diberi tugas dan tanggung jawab untuk menjaganya dengan baik. Apa yang bisa dinikmati oleh para pendahulu kita, seharusnya bisa dinikmati oleh para penerusnya. Seharusnya, sampai sekarang.
Ibarat meminjam buku dari teman, kita boleh membacanya sepuas hati tapi kita harus menjaga agar buku itu tidak rusak, apalagi sampai hilang. Bisa-bisa, kita tidak akan pernah dipercaya lagi untuk meminjam. (Oh tidak, jadi ingat kalau saya masih meminjam bukunya Roos, tapi sampai sekarang masih dalam antrian to read) Kita seharusnya bisa menjaganya seperti barang milik kita sendiri meskipun kita tidak benar-benar memilikinya.
Tapi, budaya orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ berkata, “Jika kita tidak memilikinya, kita tidak perlu memperdulikannya.” Orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’ itu pun tidak menjaga alam yang dipercayakan padanya. Hanya mengeksploitasinya, mengeruk isinya tanpa ada niat yang serius untuk memulihkan kondisinya. Hutan dibabat membabi buta, tanah dikeruk dan ditambang semena-mena tanpa membiarkan alam bernafas sejenak untuk sekedar memulihkan kondisinya.
Alam pun akhirnya bereaksi. Tidak heran, semut kena injak saja menggigit. Kalau alam bisa berbicara, mungkin dia akan mengatakan, “Lu jual, gue beli!” Cuaca berubah-ubah, temperatur naik, udara semakin kotor, air tercemar, hutan tidak bisa lagi menahan air dan menyediakan udara segara, longsor, dan banjir. Bahkan, hewan-hewan di hutan pun ikut terusik. Lahan tempat mereka mencari makan semakin menyempit padahal banyak perut yang harus diisi. ‘Berkunjung’ ke perkampungan penduduk menjadi salah satu solusi. Konflik antara manusia dan binatang pun terjadi.
Seandainya kita memiliki cinta terhadap alam ini. Cinta yang benar-benar cinta seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang katanya kolot dan tidak beradab. Seperti orang-orang Shuar di pedalaman Amazon. Selayaknya pemburu sejati, mereka hanya mengambil apa yang benar-benar mereka butuhkan dari alam. Tidak serakah untuk memuaskan keinginan semata. Mereka hanya berburu hewan-hewan yang benar-benar sudah dewasa. Bahkan mereka dengan rela hidup berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya hanya untuk memberikan lokasi yang mereka tempati sebelumnya bisa bernafas untuk memulihkan kondisinya alamnya.
Pak tua yang dikisahkan dalam buku karya Luis Sepulveda ini belajar dari orang-orang Shuar tersebut. Meski pak tua ini tidak pernah menjadi orang Shuar, tapi dia telah menjadi bagian dari mereka. Terlebih dalam hal bagaimana seharusnya memperlakukan alam yang telah banyak memberi sumber kehidupan bagi manusia. Ambil yang kau butuhkan, bukan yang kau inginkan.
Sebenarnya, pak tua ini berasal dari golongan orang-orang yang katanya ‘moderen dan beradab’. Tapi, dia sangat gemar membaca kisah cinta. Kisah cinta yang ada sedihnya, yang ada penderitaan yang luar biasa, tapi dengan akhir yang bahagia. Dia memang tidak lancar membaca tapi dia berusaha untuk mengerti dan memahami setiap kata yang menyusun setiap kalimat yang dia baca dalam novel-novel percintaan itu. Mungkin, itulah yang menyebabkan dia bisa memahami apa itu cinta, penderitaan, kesedihan, dan kebahagiaan. Sehingga dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh mahkluk lain. Apalagi, saat dia menyaksikan sendiri bagaimana seekor macan betina menunjukkan rasa cintanya pada pasangannya.
Ketika kita merasa semakin pintar, merasa semakin beradab, dan merasa semakin moderen, kok kita semakin tidak menghargai alam dan hak mahkluk lainnya. Mungkin, kita harus lebih sering membaca kisah cinta seperti yang dilakukan oleh pak tua ini. Tidak sekedar membaca, tapi memahaminya agar cinta kepada alam yang pernah diajarkan oleh nenek moyang kita tidak terkikis oleh peradaban. Padahal, bukankan peradaban seharusnya membuat kehidupan di Bumi menjadi lebih baik? Haruskah kita mewariskan udara kotor, tanah gersang, air tercemar ataupun hutan yang gundul kepada mereka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar