Dalam sebuah tayangan acara salah satu televise swasta, sang pembawa acara “berkelana” sambil menenteng sebuah kamera ke beberapa area perkantoran. Dia bertanya terhadap beberapa karyawan apakah mereka tahu tentang kasus lagu “Rasa Sayang” yang diakui oleh negara lain sebagai miliknya. Setelah mendapat respon yang berbeda-beda, kemudian dia pun mulai bertanya berapa banyak produk lokal yang sedang dipakai para karyawan tersebut pada saat itu, mulai dari tas, sepatu, kemeja, celana, rok, jaket, jam, dan lain sebagainya. Inti dari acara tersebut sebenarnya untuk mengukur seberapa besar rasa nasionalisme para karyawan tersebut.
Apakah rasa nasionalisme bisa diukur dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu? Apakah sebuah rasa ada ukuran pastinya? Kalau boleh saya persamakan, rasa nasionalisme itu sama dengan rasa cinta terhadap tanah air. Ketika berbicara tentang cinta, maka yang berbicara adalah hati dan perasaan yang kadang-kadang dibumbui oleh logika, kecuali kalau berurusan dengan cinta buta. Arswendo Atmowiloto dalam sebuah acara televisi berkata,”Kalau kamu mencintai tanah airmu, maka kawini dong, serta berkomitmen. Jangan cuma ngomong cinta.”
Layaknya perkawinan dua insan, ada komitmen, komitmen untuk saling menjaga, saling menghargai, sehidup semati, dalam suka dan duka, hingga ajal memisahkan. Ketika rakyat mengawini tanah airnya, selayaknya rakyat tersebut juga harus menjaga dan memelihara tanah airnya, termasuk kekayaan alamnya, seni dan budayanya, serta semua hal yang termasuk di dalamnya. Ketika semua rakyat bersatu untuk menjaga tanah air dan semua hal yang ada didalamnya, siapapun tidak akan berani untuk mengambilnya. Jadi tidak perlu lagi ada emosi membara ketika orang lain mengambil harta kita. Harta seseorang bisa diambil orang lain karena harta tersebut tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Maklum, silap dikit saja, maling bisa beraksi.
Kalau kita memang mempunyai rasa nasionalisme itu, berarti kita pun siap berkomitmen untuk menjaga tanah air kita, berarti kita pun tidak perlu lagi disuruh-suruh untuk menggunakan produk buatan bangsa sendiri, berarti kita tidak perlu lagi mengedepankan perbedaan, berarti kita tidak perlu lagi merasa paling benar, berarti kita bisa saling membantu atas nama persatuan. Selayaknya cinta, bukan hanya diutarakan dimulut, tetapi lebih kepada tindakan. MERDEKA!!!
Apakah rasa nasionalisme bisa diukur dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu? Apakah sebuah rasa ada ukuran pastinya? Kalau boleh saya persamakan, rasa nasionalisme itu sama dengan rasa cinta terhadap tanah air. Ketika berbicara tentang cinta, maka yang berbicara adalah hati dan perasaan yang kadang-kadang dibumbui oleh logika, kecuali kalau berurusan dengan cinta buta. Arswendo Atmowiloto dalam sebuah acara televisi berkata,”Kalau kamu mencintai tanah airmu, maka kawini dong, serta berkomitmen. Jangan cuma ngomong cinta.”
Layaknya perkawinan dua insan, ada komitmen, komitmen untuk saling menjaga, saling menghargai, sehidup semati, dalam suka dan duka, hingga ajal memisahkan. Ketika rakyat mengawini tanah airnya, selayaknya rakyat tersebut juga harus menjaga dan memelihara tanah airnya, termasuk kekayaan alamnya, seni dan budayanya, serta semua hal yang termasuk di dalamnya. Ketika semua rakyat bersatu untuk menjaga tanah air dan semua hal yang ada didalamnya, siapapun tidak akan berani untuk mengambilnya. Jadi tidak perlu lagi ada emosi membara ketika orang lain mengambil harta kita. Harta seseorang bisa diambil orang lain karena harta tersebut tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Maklum, silap dikit saja, maling bisa beraksi.
Kalau kita memang mempunyai rasa nasionalisme itu, berarti kita pun siap berkomitmen untuk menjaga tanah air kita, berarti kita pun tidak perlu lagi disuruh-suruh untuk menggunakan produk buatan bangsa sendiri, berarti kita tidak perlu lagi mengedepankan perbedaan, berarti kita tidak perlu lagi merasa paling benar, berarti kita bisa saling membantu atas nama persatuan. Selayaknya cinta, bukan hanya diutarakan dimulut, tetapi lebih kepada tindakan. MERDEKA!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar