Aku menulis tentang:

Kamis, 19 Agustus 2010

Republik Petruk - Teater Koma

Cermin Buram Republik Indonesia

Bagi para penggemar acara televisi yang bukan sinetron, mungkin sudah terbiasa menonton beberapa jenis acara parodi seperti: Republik Mimpi, Kabaret, Democrazy, dan lain-lain. Semuanya mencoba mengkritisi keadaan negara ini dengan cara memberikan gambaran betapa memprihatinkannya dan carut-marutnya keadaan Indonesia. Perekonomian yang kurang mulus perkembangannya, rakyat yang mudah terprovokasi, pemimpin-pemimpin yang saling menjegal, saling balas dendam demi tercapainya tujuan pribadi ataupun kelompoknya. Belum lagi dengan isu yang sempat mencuat hangat di khalayak ramai, apalagi kalau bukan banyak artis-artis yang mencoba peruntungan di dunia politik dengan mendaftar jadi calon anggota legislatif, walaupun mungkin tanpa ada keahlian khusus yang ditawarkannya selain modal kepopuleran.

Menyaksikan lakon Republik Petruk yang disuguhkan oleh Teater Koma, seperti
berkaca dengan keadaan Indonesia saat ini. Kalau bisa dibilang, Indonesia dalam lakon wayang. Lebih tepatnya, wayang rasa pop-rock karena dihiasi oleh musik-musik pendukung yang cukup energik, sangat berbeda dengan musik yang biasanya mengiringi lakon wayang. Ditambah dengan kostum panggung yang “gaul” ala harajuku. Enerjik dan penuh warna.

Adalah Mustakaweni yang ingin membalas dendam kepada Arjuna yang telah membunuh ayahnya. Untuk menambah kesaktiannya, dia berhasil mendapatkan pusaka sakti Kalimasada dengan menyamar sebagai Gatotkaca. Namun akhirya, pusaka itu dapat direbut kembali oleh Priambodo, salah satu putra Arjuna, yang kemudian menitipkan pusaka itu kepada Petruk. Kemudian Petruk terhasut untuk mempergunakan pusaka sakti itu untuk kepentingan pribadinya. Dengan memegang pusaka sakti, dia merasa pantas jadi pemimpin. Akhirnya dia pun mendirikan sebuah kerajaan yang dalam lakon ini dianggap sebagai Republik Petruk. Sebagai penguasa di Republik Petruk, dia merasa punya kewajiban untuk membela kerajaannya, sampai akhirnya dia berperang melawan pasukan Pandawa yang mengajak Gareng dan keluarganya untuk membantu. Perang saudara hampir terjadi hanya atas nama kekuasaan.

Banyak hal yang ingin disampaikan lakon ini kepada para penontonnya. Di antaranya, ketika cinta bisa mengalahkan dendam, dimana dendam kesumat Mustakaweni kepada Arjuna akhirnya pupus setelah bertemu dengan Priambodo, putra Arjuna. Bagaimana Gatotkaca, yang dikenal sebagai tokoh yang kuat bisa diperdaya Mustakaweni untuk mendapatkan jimat sakti Kalimasada. Lakon ini juga menceritakan tentang pembangunan sebuah candi bernama Candi Eka yang tidak kunjung selesai. Pembangunan candi Eka ini mencoba menggambarkan usaha-usaha sekelompok masyarakat yang ingin menyeregaramkan segala bentuk perbedaan di Indonesia, yang nantinya malah akan menuju ke sebuah kehancuran, seperti Candi Eka yang selalu rubuh sehingga tak kunjung bisa selesai dibangun. 

Pada akhir lakon, Batara Guru sempat menyampaikan pesan untuk membangun Candi Bhinneka, sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai latar budaya, agama, ras, golongan, ataupun suku. Bukankah justru perbedaan itu yang membuat dunia semakin berwarna? “Bersatu” kita runtuh, “berbeda-beda” kita teguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar