Aku menulis tentang:

Selasa, 17 Agustus 2010

Garis Perempuan

Saya memilih beberapa paragraf berikut yang menurut saya cocok untuk menggambarkan isi buku ini:

“Keperawanan ora tergantung bancaan. Dengan atau tanpa bacaan semua perempuan tetaplah perawan. Dibancaki puluhan tampah pun, kalau tidak bisa menjaga keperawanannya dengan baik, ya percuma. Nasi bancaan, seberapa kekuatannya? Lha wong cuma sega [itu sekadar nasi:]. Zaman sudah sesulit ini, tidak bisa diadang atau diatasi segala kegilaan zaman itu cuma dengan nasi bancaan.”.:Hal 15:.

Dimengertinya kini apa yang dikatakan Masari sesaat lalu. Bahwa poligami merupakan salah satu problem perkawinan yang berpotensi memecah belah perempuan. Memosisikan para perempuan sebagai lawan satu dengan yang lain, dalam upaya mendapatkan pembagian berupa perhatian dan cinta. .:Hal 105:.

Ketika seseorang melakukan sesuatu terhadap orang lain, yang sesungguhnya tidak diinginkan pihak lain, berarti terdapat unsur pemaksaan. Bila unsur pemaksaan itu dipaksakan, yang terjadi kemudian adalah pemerkosaan. Namun, bagaimana seseorang yang dianggap pelaku, tidak menyadari bahwa dia ‘memaksa’?.:Hal 109:.

”… dalam rupiah tidak banyak yang diberikan karak-karak itu kepadaku. Tapi, paling tidak karak-karak tidak menjadikan aku sebagai pelacur di dalam rumahku sendiri dan tidak membiarkan diriku diperkosa suami seminggu dua kali atas nama perkawinan.”.:Hal 114:.

“Ada istilah komodifikasi tubuh menjadikan tubuh sebagai komoditas barang dagangan. Bahwa kemudian kau memosisikan tubuhmu, khususnya keperawananmu sebagai komoditas dan mengeksplorasinya sebagai penghasil keuntungan secara finansial, itu adalah sebuah hak.”.:Hal 197:.

*****

Buku ini memang banyak membahas tentang keperawanan, dan juga sedikit mengenai posisi perempuan dalam poligami. Tapi menurut saya, buku ini lebih banyak bercerita tentang perempuan dan hak-nya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan, keperawanan hanya sebagai simbol untuk menggambarkannnya. Keperawanan milik mereka, dan biarkan mereka yang memutuskan akan diperlakukan seperti apa keperawanan itu.

Dan kami para lelaki, masih banyak yang menginginkan calon istrinya seorang perawan, dan banyak juga yang tidak terlalu memperdulikannya. Itu juga pilihan. Masing-masing punya pilihan untuk dijalani, jadi saling menghargai saja.

*****

Pada bab-bab awal, saya sangat menyukai kalimat-kalimat yang membangun cerita dalam buku ini. Indah! Tapi lama-lama, maaf, saya kok jadi merasa bosan. Mungkin, paragraf berikut bisa menggambarkan perasaan saya.

“Cantik saja tidak selalu cukup. Sering kali persoalannya bukan soal cantik atau tidak, tapi selalu pada kebutuhan terhadap variasi. Istri cantik bagi suami bisa jadi serupa sepiring bistik. Memang enak, tapi kalau yang terhidang bistik terus ya bosen juga. Maka, bisa jadi gado-gado atau pecel akan menjadi selingan yang menyegarkan.”.:Hal 136:.

Intinya, beberapa kalimat-kalimat “gado-gado” atau “pecel” sebagai selingan mungkin akan membuatnya tetap terasa segar dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar