Aku menulis tentang:

Selasa, 17 Agustus 2010

The Five People You Meet in Heaven

Review ini akan saya mulai dengan dua kutipan berikut:
“Itu karena tak seorang pun dilahirkan dengan membawa rasa marah. Dan ketika kita mati, jiwa kita dibebaskan dari rasa marah itu…” Hal 146

“Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Beri maaf, Edward, beri maaf…” Hal 145

Kelahiran menjadi awal dari kehidupan di dunia ini. Dan kematian di dunia menjadi akhir dari sebuah kehidupan di dunia. Akhir yang akan menjadi awal kehidupan di alam baka. Dan apakah kita akan membawa racun itu ke alam baka?

Akhir yang menjadi awal. Cerita dalam buku ini diawali dari 50 menit sebelum kematian tokoh utamanya, Edward. Bekerja sebagai maintenance di sebuah taman hiburan bernama Ruby Pier, saat itu Eddie, panggilan akrabnya, sedang berkeliling untuk memeriksa situasi taman hiburan itu. Kecelakaan terjadi, sebuah kabin di wahana Freddy’s Free Fall terlihat miring dan siap memuntahkan penghuninya. Empat penumpang dalam bahaya. Setelah melakukan tindakan penyelematan, kabin itu akhirnya terjatuh dan siap menimpa seorang gadis cilik yang terkapar dan sedang menangis di landasan di bawahnya. Eddie melompat untuk mencoba menyelamatkan gadis cilik itu. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, Eddie merasa dua tangan kecil di dalam genggaman tangannya. Itu yang dia ingat. Tapi sama sekali tidak tahu apakah dia berhasil menyelamatkan gadis cilik itu atau tidak.

Cerita kemudian berlanjut secara bergantian, dari peristiwa di masa lalu ke peristiwa di masa kini, lalu ke pertemuan Eddie dengan beberapa orang di alam baka. Dan seterusnya. Meskipun begitu, menurut saya Mitch Albom merangkai kepingan-kepingan cerita itu dengan mulus. Saya sama sekali tidak tersesat saat membacanya karena jalan cerita tetap terjaga dengan baik.

Lima orang yang ditemui Eddie di alam baka itu adalah orang-orang yang semasa hidup memiliki kaitan dengan kehidupan Eddie. Ada yang dia kenal, tapi ada juga yang tidak. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya jadi tahu kalau selama bertahun-tahun, Eddie menyimpan rasa marah, penyesalan, dan kesepian dalam hatinya. Masa kecilnya dibentuk oleh tangan-tangan yang keras, kapalan, dan merah oleh rasa marah. Juga cambukan, sabetan, dan pukulan. Kekerasan fisik. Selain itu, dia juga kurang mendapatkan perhatian. Kekerasan psikis.

Eddie melakukan pekerjaannya di Ruby Pier hanya sebagai tugas belaka. Dia menjalani hidupnya dengan perasaan hampa. Hidupnya seolah tidak bermakna dan sia-sia. Dia tidak menyadari kalau hidupnya berhubungan dengan hidup orang lain. Tidak sadar kalau perjalanan hidupnya memberi pengaruh juga pada hidup orang. Hingga akhirnya dia meninggal.

Melalui kelima orang itu, Eddie belajar untuk berdamai dengan dirinya. Dan saya belajar dari pertemuan-pertemuan itu.

Pertemuan pertama, Eddie dengan Orang Biru: Saya semakin yakin kalau tidak ada peristiwa yang kebetulan terjadi dalam dunia ini. Setiap kejadian memiliki maknanya masing-masing. Setiap tindakan dan perkataan, disadari atau tidak, secara langsung atau tidak, sedikit banyak memberi pengaruh pada kehidupan orang lain. Apa yang terjadi di masa lalu, itulah yang membentuk saya hari ini. Dan apa yang saya putuskan untuk lakukan hari ini akan berpengaruh pada apa yang akan saya hadapi di masa depan.

Pertemuan kedua, Eddie dengan Kapten: Pertemuan mereka mengubah cara pandang saya akan kata pengorbanan. Sebelumnya, saya menganggap pengorbanan sebuah kata yang bermakna negatif, berkaitan dengan keterpaksaan, ketidakrelaan, ketidakiklasan.

“Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar…” Hal 97

Dalam pengertian saya yang baru, pengorbanan seharusnya dilakukan sebagai bentuk pengabdian. Tidak selalu terfokus dengan hasil. Menurut saya, saat itu Eddie sangat terfokus dengan hasil pengorbanannya saat berusaha menyelamatkan anak perempuan dari kecelakaan di wahana itu. Dia selalu bertanya-tanya, apakah anak perempuan itu selamat? Apakah kematiannya akan sia-sia jika ternyata anak perempuan itu tidak selamat? Tidak ada kematian yang sia-sia. Bahkan menurut saya, kematian orang yang mati bunuh diri pun tidak akan sia-sia jika orang lain bisa belajar sesuatu yang positif dari hal itu. Jadi bukan kematian itu yang sia-sia, tapi orang disekitar kematian itulah yang menyia-nyiakannya.

“Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sunguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain.” Hal 97

Pertemuan ketiga, Eddie dengan Ruby: Melihat sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Tidak hanya dari sudut pandang saya, tapi juga dari sudut pandang orang lain. Kenapa orang melakukan ini? Kenapa orang melakukan itu? Pasti ada alasannya. Ketika tahu alasannya, saya akan lebih mampu memahami apa yang terjadi. Saya akan lebih mampu untuk memaafkan orang lain. Dalam hal ini, Eddie bisa memahami perilaku ayahnya.

Pertemuan keempat, Eddie dengan Marguerite: Eddie sangat marah karena begitu cepat ditinggal mati oleh Marguerite, istri yang sangat dia cintai. Dia tidak pernah menginginkan perempuan lain kecuali istrinya ini. Belajar untuk melepaskan orang yang sangat dicintai. Seharusnya kematian tidak berhubungan dengan kesedihan, tapi pada kerelaan dan kemampuan saya untuk melepaskan.

“Kehidupan harus berakhir,” kata Marguerite. “Tapi cinta tidak.” Hal 179

Pertemuan kelima, Eddie dengan Tala: Dari Tala, misteri tentang nasib anak perempuan yang Eddie coba selamatkan itu pun terungkap. Hmm, saya lebih baik tidak bercerita tentang siapa Tala ini. Daripada kena timpuk karena memberikan spoiler. Jadi baca sendiri saja ya...

“Kau mendapat kedamaian,” kata si wanita tua, “setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.” Hal 116

Setuju. Bagaimana bisa kita berdamai dengan orang lain ketika kita tidak terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dan Eddie pun berdamai dengan dirinya sendiri. Rasanya plong!!! Rasa marah, penyesalan, dan kesepian yang selama ini terendap dalam dirinya, hilang sudah.

Eddie meninggal pada usia 83 tahun. Kehidupan yang cukup lama. Tapi makna hidup ternyata tidak tergantung pada seberapa lama seseorang hidup di dunia ini, tapi seberapa bermakna hidupnya selama berada di dunia ini.

Setelah membaca buku ini, saya jadi merasa punya hubungan kehidupan dengan Eddie, mungkinkah dia menjadi salah seorang dari lima orang yang akan saya temui setelah saya meninggal kelak???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar